BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran. Hal ini bertujuan agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan semua
itu perlu dilakukan berbagai strategi dan integral yang menunjang
penyelenggaraan pendidikan. Kesempatan memperoleh pendidikan yang berkualitas
berlaku untuk semua kalangan masyarakat, mulai dari usia dini sampai jenjang
pendidikan tinggi.
Pendidikan
anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak
sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian
rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut.
sebagaimana ditetapkan
1 2
dalam Undang - Undang No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat
14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi : Pendidikan anak usia
dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai
usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk
membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki
kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Usia dini merupakan masa
keemasan ( Golden age ) seorang anak manusia, masa peletakan pondasi
kecerdasan manusia, masa pengembangan dan pembentukan berbagai kemampuan. Anak
adalah aset bagi orang tua, bangsa dan Negara yang kelak akan berharga menjadi
sumber daya manusia. Masa keemasan ini tidak akan terjadi dua kali,
keberhasilan upaya pengembangan kecerdasan anak usia dini sangat ditentukan
oleh bagaimana kualitas lingkungan dan stimulasi dari lingkungan anak. Pendidikan
anak usia dini khususnya Taman Kanak-kanak, pada dasarnya adalah pendidikan
yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan
perkembangan seluruh aspek kepribadian dan kemampuan anak, seperti moral dan
nilai – nilai agama, sosial, emosional, kemandirian, bahasa, kognitif, fisik
motorik dan seni.
Mencermati
pentingnya pendidikan dan pembelajaran bagi anak usia dini, tampaklah bahwa ada
dua hal yang perlu diperhatikan pada pendidikan anak usia dini, yakni: 1)
materi pendidikan, dan 2) metode pendidikan yang dipakai. Secara singkat dapat
dikatakan bahwa materi maupun metode pendidikan yang dipakai dalam rangka
pendidikan anak 3
usia dini harus benar–benar memperhatikan tingkat
perkembangan mereka dan prinsip–prinsip pembelajaran bagi anak usia dini.
Sesuai dengan prinsip pembelajaran di Taman Kanak-kanak, yaitu bermain sambil
belajar dan belajar seraya bermain adalah wadah yang tepat untuk menambah
perkembangan potensi yang ada pada anak. Bermain adalah dunia anak dan
merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak, khususnya
anak usia dini. Sebelum bersekolah bermain merupakan cara alamiah anak untuk
mengenal lingkungannya, orang lain dan dirinya. Pada prinsipnya bermain
mengandung rasa senang dan lebih mementingkan proses dari pada hasil. Peran
pendidik ( orang tua, guru dan orang dewasa lain ) sangat diperlukan dalam
upaya pengembangan anak, upaya pengembangan tersebut harus dilakukan melalui
kegiatan bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain. Dengan bermain
anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan
perasaan, berkreasi dan belajar secara menyenangkan. Untuk tercapainya
perkembangan anak secara optimal sesuai harapan kita semua, perlu kiranya guru
membelajarkan anak melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan menarik
serta membangkitkan rasa ingin tahu anak dan memotivasi anak untuk berpikir
kritis, kreatif dalam suasana yang menyenangkan.
Dalam
rangka menghadapi era globalisasi, program pendidikan harus mampu memberikan bekal
pada peserta didik untuk memiliki daya 4
saing yang tinggi dan tangguh. Daya saing yang tangguh
dapat terwujud jika peserta didik memiliki kreativitas, kemandirian, kemampuan
dasar dan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan–perubahan yang terjadi pada
berbagai bidang kehidupan di masyarakat. Sebagaimana yang telah kita ketahui
bahwa usia prasekolah merupakan usia yang efektif untuk mengembangkan berbagai
potensi dan kecerdasan yang dimiliki anak-anak, salah satu kecerdasan yang
harus dikembangkan adalah kecerdasan logika matematika anak. Pengembangan
kecerdasan logika matematika di TK diharapkan tidak hanya berkaitan dengan
kemampuan kognitif saja, tetapi juga kesiapan mental social dan emosional anak
didik. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara menarik dan
bervariasi. Menurut Campbell ( 2006:40 ) “Intelegensi logika matematika
melibatkan banyak komponen seperti: perhitungan secara sistematis, berfikir
logis, pemecahan masalah, ketajaman pola – pola dan hubungan”. Optimalisasi perkembangan
anak memerlukan pengkondisian yang kondusif, guru perlu memfasilitasi anak agar
dapat berkembang dengan baik.
Matematika
bisa dijadikan bagian yang integral dari semua kegiatan belajar, anak-anak
harus diberi kesempatan-kesempatan untuk menghitung, menyortir, dan
menggolongkan dalam berbagai konteks. Ini akan mendukung perkembangan anak
dalam berfikir matematis dan bernalar. Guru memiliki peranan penting dalam
kegiatan pembelajaran 5
matematika, guru harus
menguasai materi dengan baik, menguasai teknik pengajaran dan harus memahami
karakter serta kemampuan anak didik. Namun pada kenyataannya, di TK Tunas Karya
Padangpanjang guru kurang menekankan kegiatan pembelajaran matematika di
kelasnya. Kemampuan anak dalam logika matematika terlihat masih rendah seperti
anak belum mengenal angka 1- 10, anak tidak mengenal bentuk-bentuk geometri,
banyak yang belum bisa membedakan bermacam warna, belum bisa menghitung benda
1-10 dan tidak bisa menyusun ukuran benda dari yang kecil-besar atau
sebaliknya. Perberdayaan lingkungan dan pemanfaatan sumber belajar belum secara
optimal dalam memfasilitasi perkembangan anak terutama pada kegiatan
peningkatan kecerdasan logika matematika anak. Guru juga mengajarkan kemampuan
yang berkaitan dengan matematika dengan mengadopsi pola – pola pembelajaran di
sekolah dasar, tanpa memperhatikan prinsip – prinsip pembelajaran anak usia
dini serta tidak sesuai dengan karakteristik dan kemampuan anak. Sehingga TK
tidak lagi menjadi taman yang indah dan tempat bermain bagi anak tetapi beralih
fungsi menjadi “sekolah” TK. sehingga kecerdasan logika matematika pada diri
anak menjadi kurang serta anak sulit belajar yang berkaitan dengan logika
matematika tersebut. Kegiatan pembelajaran yang berhubungan dengan matematika
menjadi sesuatu hal yang menakutkan dan tidak menyenangkan bagi anak.


0 komentar:
Posting Komentar