Minggu, 24 Maret 2013

PENGARUH EKSTRAK DAUN PAITAN (Tithonia diversifolia) terhadap MORTALITAS LARVA Aedes aegypti INSTAR III

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang

Nyamuk sering kali dikenal sebagai makluk yang menyebabkan penyakit. Namun hal inilah yang merupakan salah satu tanda yang menunjukkan kebesaran Allah karena dengan adaya penyakit yang ditimbulkan nyamuk ini kehidupan yang begitu komplek dan begitu menarik tersingkap dan tidaklah mungkin jika bukan yang Maha Sempurna yang menyiptakanya. Walau semua makhluk hidup memiliki tanda-tanda kebesaran Allah, beberapa tanda dirujuk Allah secara khusus dalam Al Quran. Nyamuk adalah salah satunya (Yahya, 2006). Di dalam surat Al Baqarah ayat 26 disebutkan:
"Sesungguhnya, Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik."(Al Bagarah, ayat 26).
Demam berdarah dengue adalah salah satu penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dan sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia
2
(Munif, 1997). Demam berdarah dengue (DBD) dapat menjadi wabah pada saat-saat tertentu yang sulit diramalkan dan dapat menyebabkan kematian. DBD mulai ada di Indonesia pada tahun 1968 di Surabaya dan Jakarta, sejak saat itu penyakit ini merupakan salah satu penyakit endemis di Indonesia (Muchlastriningsih, dkk., 1997).
Pada tahun 1994 DBD telah menyebar ke seluruh propinsi di Indonesia. Berdasarkan data yang dilaporkan WHO (World Health Organization) antara tahun 1991-1995, Indonesia menempati peringkat ke tiga (110.043) dalam hal infeksi virus dengan jumlah kematian menempati peringkat pertama (2.861 kasus) dan angka kematian tersebut menempati peringkat keempat (2,6%) diantara negara-negara seperti Vietnam, Thailand, India, Myanmar, Amerika, Kampuchea, Malaysia, Singapore, Philipina, Srilangka, Laos dan negara-negara di kepulauan pasifik. Laporan kasus DBD antara tahun 1991-1995 dapat dilihat pada lampiran 1 (Djunaedi, 2006). Pada Januari 2007, kasus DBD terbanyak dilaporkan di Propinsi DKI Jakarta dengan 968 kasus, 1 diantaranya meninggal. Setelah DKI Jakarta, daerah lain yang melaporkan kasus demam berdarah dengue adalah propinsi Lampung (421 kasus, 3 meninggal), Jawa Tengah (400 kasus, 1 meninggal), Jawa Barat (284 kasus, 3 meninggal), Kalimantan Timur (79 kasus, 1 meninggal), Banten (48 kasus, 4 meninggal), Bali (31 kasus), Jawa Timur (27 kasus 2 meninggal), NTB (19 kasus), dan Bangka Belitung (6 kasus) (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
DBD disebabkan oleh virus dengue. Vektor utama penularan penyakit DBD adalah Aedes aegypti betina. Aedes aegypti betina menularkan penyakit ini
3
pada saat menghisap darah yang digunakan sebagai sumber protein bagi kelangsungan hidup telur dalam tubuhnya. Nyamuk betina selama bertelur mampu menghasilkan telur sebanyak 100-400 butir telur (Soegijanto, 2003) dalam (Nurhayati, 2005). Dengan adanya reproduksi yang cukup tinggi ini, maka nyamuk ini sangat berbahaya.
Pemberantasan DBD dengan pemutusan siklus hidup vektor adalah salah satu cara pencegahan yang dinilai efektif karena dengan tidak adanya vektor penyakit ini tidak akan sampai ke manusia (Suwasono, 1997). Siklus hidup Aedes aegypti terdiri dari dua tahap perkembangan yaitu stadium dewasa dan stadium pradewasa. Stadium pradewasa hidup di lingkungan air dengan berkolonisasi dan stadium dewasa hidup di luar air (Hidayat, dkk., 1997). Dengan adanya kolonisasi pada stadium pradewasa ini maka stadium pradewasa dinilai lebih mudah pemberantasanya dari pada satadium dewasa.
Tahapan larva dalam siklus hidup Aedes aegypti selain telur dan pupa termasuk dalam stadium pradewasa. Larva Aedes aegypti dalam perkembangan nya terdiri dari empat tahap pergantian kulit yang disebut instar yaitu instar I, II, III dan IV. Gama (2003) dalam Ariesamin (2005) melaporkan bahwa instar III lebih adaptif dibanding instar I dan II karena pada instar I dan II masih mengalami perkembangan saluran pencernaan yang belum sempurna dibanding larva nyamuk instar III.


Ditulis Oleh : Unknown // 21.29
Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar