Minggu, 24 Maret 2013

PENGARUH TAKARAN INOKULASI Rhizobium DAN TEKNIK PEMUPUKAN NITROGEN DI LAHAN SAWAH SETELAH PADI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merr)

BAB I
PENDAHULUAN



1.1 Latar Balakang

Tanah atau lahan sawah adalah tanah yang digunakan untuk menanam padi sawah, baik secara terus menerus sepanjang tahun atau bergiliran denga tanaman palawija. Salah satu ciri khas yang dimiliki tanaman padi sawah adalah tumbuh dengan baik pada tanah yang tergenang (Hardjowigeno & Rayes, 2005).Bila tanah dalam kondisi tergenang, persediaan oksigen menurun sampai mencapai nol dalam waktu kurang dari sehari. Dengan demikiam laju difusi oksigen udara melalui lapisan air atau pori yang berisi air, 10.000 kali lebih
lambat dari pada melalui udara sehingga jasad renik aerob dengan cepat menghabiskan oksigen yang tersisa dan selanjutnya menjadi tidak aktif lagi atau mati (Sanchez,1993). Pitojo, 2003; Hardjowigeno & Rayes, 2005, menambahkan bahwa Rhizobium adalah bakteri dalam nodul akar yang bersimbiosis mutualisme
dengan tanaman kedelai untuk memfiksasi nitrogen bebas (N2) dan merupakan salah satu bakteri aerob yang kelangsungan hidupnya membutuhkan oksigen bebas sehingga dengan demikian pada tanah setelah padi ini diperkirakan memiliki populasi Rhizobium yang rendah atau bahkan tidak ada. Nitrogen adalah hara esensial bagi tanaman yang sering kurang tersedia pada lahan pertanian dan merupakan salah satu faktor utama penyebab rendahnya tingkat produksi kedelai (Sumarno et al., 1989). Nitrogen akan cepat hilang dalam
tanah melalui nitrifikasi, denritifikasi maupun hanyut (tercuci) bersama air (Yutono ,1985;dalam Endrawati, 2005). Penanggulangan permasalah nitrogen yang umum dilakukan adalah dengan pemupukan urea. Urea merupakan salah satu pupuk anorganik yang mengandung unsur nitrogen yang berguna sebagai komponen dasar pembentukan protein (Gunarto, et al., 1987). Senyawa nitrogen anorganik (urea) dalam jumlah kecil diperlukan untuk mengatasi kebutuhan nitrogen pada awal pertumbuhan sebelum tanaman dapat mengandalkan kebutuhan nitrogen dari fiksasi N2 oleh bintil akar (Yuntono, 1985;dan Endrawati, 2005). Kandungan nitrogen dalam tanah yang cukup tinggi dapat menyebabkan pembentukan nodul akan terhambat, dan selanjutnya aktifitas fiksasi nitrogen oleh bakteri Rhizbium tidak efektif (Idiyah,1997 ; Mcnel, 1982 ; Herrdidge, 1982). Sehingga dapat menghambat pertumbuhan pembungaan dan pembuahan pada tanaman (Sutejo,1997). Oleh karena itu jumlah takaran dan waktu pemberian pupuk nitrogen dalam hal ini Urea perlu diperhatikan, selain itu penambahan nitrogen melalui tanah pada saat yang tepat dapat meningkatkan hasil kedelai (Pasaribu, et al., 1989). Selain menggunakan pupuk Urea salah satu alternatif teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan nitrogen, adalah dengan memanfaatkan N bebas di udara dengan inokulasi Bakteri Rhizobium pada tanaman kedelai (Gunarto, et al., 1989).
Inokulasi Rhizobium pada budidaya kedelai di lahan sawah sudah cukup lama diterapkan, hal ini karena proses ini dapat memberikan nitrogen tersedia bagi tanaman karena kemampuan dari inokulasi Rhizobium ini dapat memfiksasi N2 dari atmosfir dan mengubahnya menjadi NH3. Akan tetapi dari hasil penelitian
Idiyah,(1997) menunjukkan bahwa inokulasi Rhizobium di lahan sawah belum dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai. Diduga salah satu penyebabnya antara lain adalah: (i) kualitas strain inokulan kurang efektif memfiksasi nitrogen, (ii) strain inokulan tidak toleran terhadap kondisi lahan sawah yang basah-kering-basah-kering dan mengandung nitrogen yang cukup tinggi baik dari sisa pemupukan sebelumnya, aktifitas nitrogen biologis gulma sawah, maupun hasil dekomposisi bahan organic hasil panen sebelumnya, (iii) jumlah strain inokulan terlalu rendah dibanding jumlah strain kompetitif (Rhizobium tanah yang tidak efektif). Supriati, et al., (1989) menambahkan bahwa salah satu faktor penyebab inokulasi Rhizobium belum meningkatkanpertumbuhan dan hasil tanaman kedelai adalah terputusnya siklus nitrogen antarabakteri Rhizobium dengan tanaman inangnya yang disebabkan oleh pergiliran tanaman.
Kebutuhan nitrogen tanaman dapat dipenuhi oleh fiksasi nitrogen biologisapabila nodul (bintil akar) yang efekif mengikat nitrogen terbentuk dalam jumlah yang cukup (Hardy & Havelka, 1975). Hal ini dapat terjadi apabila bakteri Rhizobium dari strain yang sesuai tersedia dalam tanah. Sementara tanah dapat
mengandung berbagai macam strain termasuk yang tidak efektif, dan jika yang terakhir ini menginfeksi tanaman maka nodul yang dihasilkan tidak akan aktif memfiksasi nitrogen, sehingga untuk menjamin infeksi tanaman oleh bakteri yang efektif, pemberian inokulum diperlukan (Sitompul,et al., 1991). Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti menganggap bahwa penelitian yang berjudul “pengaruh teknik pemberian pupuk N (urea) dan inokulasi Rhizobium terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine max (L.)
Merr)” penting dilakukan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
a.Adakah pengaruh takaran inokulasi Rhizobium yang berbeda terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai?
b.Adakah pengaruh waktu pemberian dosis pupuk nitrogen yang berbeda
terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai?
c.Adakah pengaruh interaksi takaran inokulasi Rhizobium dan waktu
pemberian pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman
kedelai?

1.3 Tujuan Penelitian

a.Mengetahui pengaruh takaran inokulasi Rhizobium yang berbeda terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai.
b.Mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk nitrogen dalam waktu yang
berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai.
c.Mengetahui pengaruh interaksi takaran inokulasi Rhizobium dan waktu
pemberian pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman
kedelai.


Ditulis Oleh : Unknown // 21.23
Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar