BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu alat untuk mengembangkan cara berfikir
seseorang. Hal ini merupakan salah satu alasan matematika perlu untuk diberikan
kepada peserta didik sejak jenjang pendidikan dasar.1 Cornelius dalam Abdurrahman (2003: 253) mengemukakan bahwa “alasan
perlunya belajar matematika adalah karena matematika merupakan sarana berfikir
yang jelas dan logis, sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari- hari,
sarana mengenal pola- pola hubungan dan generalisasi pengalaman, sarana untuk mengembangkan
kreativitas, dan sarana untuk perkembangan budaya”. Berdasarkan hal tersebut di
atas tampak bahwa penguasaan terhadap matematika akan membantu peserta didik
memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari- hari termasuk yang
terkait dengan kemajuan IPTEK. Tetapi dalam kenyataannya mempelajari matematika
menjadi suatu dilema tersendiri bagi siswa. Di satu sisi penguasaan terhadap
matematika memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan matematika
kelak, namun disisi lain matematika dianggap sebagai ilmu pelajaran yang sulit
untuk dipelajari, dipahami, dan dimengerti. Hal ini sejalan dengan pengamatan
dan pengalaman Dienes bahwa: Terdapat anak-anak yang menyenangi matematika
hanya pada permulaan, mereka berkenalan dengan matematika yang sederhana, semakin
tinggi jenjang sekolahnya makin sukar matematika yang dipelajari. Makin kurang
minatnya dalam belajar matematika sehingga dianggap matematika itu sebagai ilmu
yang sukar dan rumit. Salah satu faktor yang turut
mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mempelajari matematika adalah metode yang
diterapkan guru selama proses belajar mengajar. Di lapangan, banyak guru
matematika yang menerapkan pembelajaran konvensional. Pembelajaran tipe ini
biasanya dimulai dengan guru menerangkan materi menggunakan metode ceramah,
kemudian siswa mendengarkan dan mencatat hal yang dianggap penting.
Pembelajaran matematika yang cenderung textbook oriented memang cenderung abstrak dan kurang
terkait dengan kehidupan sehari- hari sehingga konsep- konsep materi pelajaran
kurang bisa dipahami oleh peserta didik. Selain itu guru masih kurang memperhatikan
kemampuan berfikir siswa dalam mengajar atau dengan kata lain tidak melakukan
pengajaran bermakna, metode yang digunakan kurang bervariasi, dan sebagai
akibatnya motivasi belajar siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar
cenderung menghafal dan mekanistik. Dalam pembelajaran matematika diharapkan
siswa benar-benar aktif. Sehingga ingatan siswa tentang apa yang telah
dipelajari dapat bertahan lama. Suatu konsep akan mudah dipahami dan diingat
oleh siswa bila konsep tersebut disajikan melalui prosedur dan langkah- langkah
yang tepat, jelas dan menarik. Keaktifan siswa merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi keberhasilan dalam belajar matematika. Namun, di sisi lain kita
menghadapi kenyataan yang sangat memprihatinkan terhadap keaktifan dan hasil
belajar siswa yang sangat kurang saat ini. Mencermati hal tersebut di atas
peran guru dalam pembelajaran sangat penting. Oleh karena itu, guru harus
pintar dalam hal memilih dan memilah model pembelajaran maupun strategi
pembelajaran yang akan digunakan. Dalam penelitian ini, peneliti memilih model
pembelajaran kooperatif karena pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan
aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran. Pembelajaran kooperatif
dapat dilakukan dengan cara membagi peserta didik dalam beberapa kelompok untuk
melakukan aktivitas belajar secara bersama- sama. Tidak hanya itu, model
pembelajaran kooperatif juga menuntut kerjasama peserta didik dan saling
ketergantungan dalam struktur, tugas, tujuan dan penghargaan. Agar kerjasama
peserta didik dapat berjalan dengan baik, maka peneliti membentuk kerja
kelompok atau diskusi kelompok. Dalam diskusi kelompok peserta didik harus
saling berbagi informasi dan pengalaman kepada kelompoknya. Diskusi kelompok
merupakan suatu pengalaman belajar yang dapat diterapkan dalam segala bidang
studi. Akan tetapi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai serta bahan pelajaran yang diajarkan. Diskusi kelompok model snow
ball merupakan
salah satu strategi belajar mengajar dengan kadar keaktifan yang tinggi, dimana
strategi ini digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari diskusi
siswa secara bertingkat. Strategi ini dimulai dengan pembentukan kelompok kecil
(yang terdiri dari dua atau tiga orang) kemudian dilanjutkan dengan kelompok
yang lebih besar, dan menjadi semakin besar (seperti bola salju) sehingga pada akhirnya
memunculkan jawaban yang telah disepakati oleh siswa dalam satu kelompok.
Banyak hal yang harus diperhatikan dalam diskusi kelompok, diantaranya materi,
tempat duduk siswa serta banyaknya jumlah kelompok. Karena ketiga hal tersebut
sangat berpengaruh dalam keefektifan diskusi itu sendiri. Dari penjelasan di
atas dapat disimpulkan bahwa dalam strategi snow ball
diperlukan
suatu kerjasama antar kelompok serta tanggung jawab dari kelompok. Maka dari
itu strategi snow ball sangat sesuai di gunakan dalam model pembelajaran kooperatif.
Sedangkan alasan penulis memilih materi persamaan linier satu variabel karena
materi tersebut sebagai prasyarat materi pertidaksamaan linier satu variabel
dan materi ini juga sering ditemui dalam kehidupan sehari- hari. Berdasarkan
latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang
berjudul “KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF DENGAN STRATEGI SNOW BALL PADA
SUB POKOK BAHASAN PERSAMAAN LINIER SATU VARIABEL DI KELAS VII SMP 5 NEGERI 13
SURABAYA.”


0 komentar:
Posting Komentar