Selasa, 26 Maret 2013

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN STRATEGI SNOW BALL PADA SUB POKOK BAHASAN PERSAMAAN LINIER SATU VARIABEL


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu alat untuk mengembangkan cara berfikir seseorang. Hal ini merupakan salah satu alasan matematika perlu untuk diberikan kepada peserta didik sejak jenjang pendidikan dasar.1 Cornelius dalam Abdurrahman (2003: 253) mengemukakan bahwa “alasan perlunya belajar matematika adalah karena matematika merupakan sarana berfikir yang jelas dan logis, sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari- hari, sarana mengenal pola- pola hubungan dan generalisasi pengalaman, sarana untuk mengembangkan kreativitas, dan sarana untuk perkembangan budaya”. Berdasarkan hal tersebut di atas tampak bahwa penguasaan terhadap matematika akan membantu peserta didik memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari- hari termasuk yang terkait dengan kemajuan IPTEK. Tetapi dalam kenyataannya mempelajari matematika menjadi suatu dilema tersendiri bagi siswa. Di satu sisi penguasaan terhadap matematika memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan matematika kelak, namun disisi lain matematika dianggap sebagai ilmu pelajaran yang sulit untuk dipelajari, dipahami, dan dimengerti. Hal ini sejalan dengan pengamatan dan pengalaman Dienes bahwa: Terdapat anak-anak yang menyenangi matematika hanya pada permulaan, mereka berkenalan dengan matematika yang sederhana, semakin tinggi jenjang sekolahnya makin sukar matematika yang dipelajari. Makin kurang minatnya dalam belajar matematika sehingga dianggap matematika itu sebagai ilmu yang sukar dan rumit. Salah satu faktor yang turut mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mempelajari matematika adalah metode yang diterapkan guru selama proses belajar mengajar. Di lapangan, banyak guru matematika yang menerapkan pembelajaran konvensional. Pembelajaran tipe ini biasanya dimulai dengan guru menerangkan materi menggunakan metode ceramah, kemudian siswa mendengarkan dan mencatat hal yang dianggap penting. Pembelajaran matematika yang cenderung textbook oriented memang cenderung abstrak dan kurang terkait dengan kehidupan sehari- hari sehingga konsep- konsep materi pelajaran kurang bisa dipahami oleh peserta didik. Selain itu guru masih kurang memperhatikan kemampuan berfikir siswa dalam mengajar atau dengan kata lain tidak melakukan pengajaran bermakna, metode yang digunakan kurang bervariasi, dan sebagai akibatnya motivasi belajar siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar cenderung menghafal dan mekanistik. Dalam pembelajaran matematika diharapkan siswa benar-benar aktif. Sehingga ingatan siswa tentang apa yang telah dipelajari dapat bertahan lama. Suatu konsep akan mudah dipahami dan diingat oleh siswa bila konsep tersebut disajikan melalui prosedur dan langkah- langkah yang tepat, jelas dan menarik. Keaktifan siswa merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam belajar matematika. Namun, di sisi lain kita menghadapi kenyataan yang sangat memprihatinkan terhadap keaktifan dan hasil belajar siswa yang sangat kurang saat ini. Mencermati hal tersebut di atas peran guru dalam pembelajaran sangat penting. Oleh karena itu, guru harus pintar dalam hal memilih dan memilah model pembelajaran maupun strategi pembelajaran yang akan digunakan. Dalam penelitian ini, peneliti memilih model pembelajaran kooperatif karena pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dapat dilakukan dengan cara membagi peserta didik dalam beberapa kelompok untuk melakukan aktivitas belajar secara bersama- sama. Tidak hanya itu, model pembelajaran kooperatif juga menuntut kerjasama peserta didik dan saling ketergantungan dalam struktur, tugas, tujuan dan penghargaan. Agar kerjasama peserta didik dapat berjalan dengan baik, maka peneliti membentuk kerja kelompok atau diskusi kelompok. Dalam diskusi kelompok peserta didik harus saling berbagi informasi dan pengalaman kepada kelompoknya. Diskusi kelompok merupakan suatu pengalaman belajar yang dapat diterapkan dalam segala bidang studi. Akan tetapi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai serta bahan pelajaran yang diajarkan. Diskusi kelompok model snow ball merupakan salah satu strategi belajar mengajar dengan kadar keaktifan yang tinggi, dimana strategi ini digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari diskusi siswa secara bertingkat. Strategi ini dimulai dengan pembentukan kelompok kecil (yang terdiri dari dua atau tiga orang) kemudian dilanjutkan dengan kelompok yang lebih besar, dan menjadi semakin besar (seperti bola salju) sehingga pada akhirnya memunculkan jawaban yang telah disepakati oleh siswa dalam satu kelompok. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam diskusi kelompok, diantaranya materi, tempat duduk siswa serta banyaknya jumlah kelompok. Karena ketiga hal tersebut sangat berpengaruh dalam keefektifan diskusi itu sendiri. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam strategi snow ball diperlukan suatu kerjasama antar kelompok serta tanggung jawab dari kelompok. Maka dari itu strategi snow ball sangat sesuai di gunakan dalam model pembelajaran kooperatif. Sedangkan alasan penulis memilih materi persamaan linier satu variabel karena materi tersebut sebagai prasyarat materi pertidaksamaan linier satu variabel dan materi ini juga sering ditemui dalam kehidupan sehari- hari. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN STRATEGI SNOW BALL PADA SUB POKOK BAHASAN PERSAMAAN LINIER SATU VARIABEL DI KELAS VII SMP 5 NEGERI 13 SURABAYA.”

Ditulis Oleh : Unknown // 21.12
Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar