BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Kemajuan
kehidupan masyarakat dalam suatu negara sangat dipengaruhi oleh kemajuan dalam
dunia pendidikan. Secara formal, dunia pendidikan meliputi pendidikan di
tingkat perguruan tinggi, SMA, SMP, dan SD. Untuk menciptakan suatu masyarakat
yang maju maka harus dilakukan usaha-usaha yang dapat meningkatkan mutu
pendidikan di semua jenjang pendidikan tersebut. Mutu pendidikan dikatakan baik
jika proses belajar mengajar di semua jenjang tersebut benar-benar efektif dan
efisien sehingga siswa dapat mencapai kemampuan intelektual, sikap, dan
ketrampilan yang diharapkan. Mutu pendidikan dipengaruhi oleh beberapa hal
terutama ketersediaan fasilitas belajar, pemanfaatan waktu, dan penggunaan
metode belajar. Pada pelaksanaan pembelajaran di kelas guru harus mampu memilih
metode pembelajaran yang tepat karena cara guru dalam menyampaikan materi pelajaran
sangat mempengaruhi kelancaran proses pembelajaran dan minat siswa terhadap
materi pelajaran yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap prestasi belajar
siswa. Bahar menyatakan bahwa guru berkewajiban untuk mencapai kegiatan
pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan kognitif, psikomotorik dan
afektif bagi siswa agar mencapai hasil pembelajaran yang optimal.2
Dari hasil wawancara dengan guru matematika MI Ar-Rahmah Bendo Jabung Malang
diketahui bahwa prestasi belajar matematika siswa di sekolah tersebut rendah.
Rendahnya prestasi belajar matematika di kelas tersebut diduga karena guru
secara aktif menjelaskan materi, memberi contoh, dan latihan sedangkan siswa
hanya mendengar, mencatat, dan mengerjakan latihan. Pembelajaran seperti itu
kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan, membentuk, dan
mengembangkan pengetahuannya sendiri. Dengan demikian, pembelajaran tersebut
kurang mampu menumbuhkan motivasi belajar dalam diri siswa. Selain itu, kecil
sekali peluang terjadinya proses sosial antar siswa yaitu hubungan siswa satu dengan
siswa lainnya dalam rangka membangun pengetahuan bersama. Konstruktivisme
merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang lahir dari gagasan Jean
Peaget. Dalam pandangan konstruktivisme, pengetahuan tumbuh dan berkembang
melalui pengalaman. Menurut Suherman dkk. didalam kelas konstruktivisme,
pengetahuan yang berada dalam diri mereka. Mereka berbagi strategi dan
penyelesaian, debat antara yang satu dengan yang lainnya, dan berpikir secara
kritis tentang cara terbaik untuk menyelesaikan setiap masalah.
Salah
satu model pembelajaran yang berpijak pada pandangan konstruktivis adalah
pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang
memberikan kesempatan kepada para siswa melaksanakan kegiatan belajar bersama
dengan kelompok kecil (antara 3 sampai 5 orang). Dalam pembelajaran kooperatif
masing-masing siswa anggota kelompok bertanggung jawab terhadap keberhasilan
diri dan anggotanya. Mereka harus saling membantu melaksanakan tugas yang
diberikan kepada kelompoknya sehingga setiap anggota kelompok mencapai potensi
optimal yang mungkin diraihnya. Sampai saat ini sudah cukup banyak tipe
pembelajaran kooperatif yang dikembangkan, diantaranya adalah Students Team
Achievement Divisions (STAD), Teams Games Turnament (TGT), Jigsaw, Team
Assisted Individralization (TAI), Group Investigation (GI), dan Teams Games Turnament (TGT) adalah salah satu
tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan adanya kerjasama antar anggota
kelompok untuk mencapai tujuan belajar. Terdapat empat tahap dalam TGT yaitu mengajar,
belajar kelompok, turnamen/perlombaan, dan penghargaan kelompok. Hal yang
menarik dari TGT dan yang membedakannya dengan tipe pembelajaran kooperatif
yang lain adalah turnamen. Di dalam turnamen, siswa yang berkemampuan
akademiknya sama akan saling berlomba untuk mendapatkan skor tertinggi di meja
turnamennya. Jadi siswa yang berkemampuan akademiknya tinggi akan berlomba
dengan siswa yang berkemampuan akademiknya tinggi, siswa yang berkemampuan
akademiknya 4 Noornia, “Penerapan Pembelajaran
Kooperatif Model STAD pada Pengajaran
Kelas
IV SD Islam Ma’arif 02 Singosari”, Tesis tidak diterbitkan, Malang,
Program Pasca Sarjana. sedang akan berlomba dengan siswa yang
berkemampuan akademiknya sedang, siswa yang
berkemampuan akademiknya rendah akan berlomba dengan
siswa yang berkemampuan akademiknya rendah juga. Oleh karena
itu,
setiap siswa punya kesempatan yang sama untuk menjadi yang terbaik di
meja
turnamennya. Hal ini tentu akan memotivasi siswa dalam belajar
sehingga
berpengaruh juga terhadap prestasi belajar siswa. Berdasarkan
uraian yang telah diungkapkan diatas, maka perlu suatu
tindakan
guru untuk mencari dan menerapkan suatu model pembelajaran yang
sekiranya
dapat memotivasi dan meningkatkan prestasi belajar matematika
siswa.
Dalam rangka itu peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan
judul:
” Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games
Turnament)
Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa
Kelas
V Madrasah Ibtidaiyah Ar-Rahmah Jabung Malang”


0 komentar:
Posting Komentar